Lagi dan lagi, setelah sukses ngebuat gua baca berkali-kali Antologi Rasa dan Critical Eleven, Ika Natassa menulis novel keren lagi yang bagi gua memang selalu ada perbedaan di setiap novelnya. Awalnya gua males beli karena Critical Eleven yang tidak memenuhi ekspektasi gua meskipun akhirnya difilmkan beberapa waktu lalu. The Architecture of Love alias TAOL, sukses untuk membuat kita baper receh. Ika Natassa selalu mengalir aja gitu kalau nulis jadi bacanya enak dan nggak perlu waktu lama untuk membuat gua meng-khatam-kan novel ini.
TAOL, bercerita tentang Raia Risjad –penulis yang baru bercerai dengan suaminya dan River Jusuf –arsitek yang ditinggal istrinya, mereka bertemu di New York ketika merasa sama-sama lost. Yang gua suka disini adalah, novel ini bukan cerita tentang cinta yang menye-menye ala kids jaman now. Tapi cerita seadanya, sederhana, dan yang bikin unik itu dari penokohannya.
Caranya dia menggambarkan Raia Risjad yang seperti biasa, cantik dan perfect yang desperate karena ditinggal suaminya karena suaminya mendadak marah besar ketika cerita mereka dijadikan inspirasi Raia untuk menulis buku dan difilmkan, bagi gua itu adalah alasan paling cupu karena… memang ada orang yang cintanya udah kebangetan dari mulai SMA sampai menjalani hubungan belasan tahun, runtuh begitu saja karena hal sepele? Raia is looking for an answer. Yang answer-nya sendiri dibuat bagus sama Ika Natassa, dengan cara memperlihatkan Alam –mantan suaminya berjalan dengan istri dan anaknya yang sudah berusia dua tahun padahal pisah sama Raia belum genap dua tahun. Tahu kan maksudnya? Raia memang belum bisa mendapatkan keturunan setelah berjuang kesana kemari. Tapi, apakah bercerai dengan alasan receh itu adalah hal yang tepat?
Kak Ika juga menggambarkan sosok River Jusuf yang cinta banget sama arsitektur, pendiam, dan yang paling penting adalah ganteng. Yha mungkin memang novel-novel Kak Ika ini kebanyakan novel metropop –cerita tentang masyarakat urban menengah yang tinggal di kota-kota besar dengan gaya bahasa pop, jadi pembaca lebih enak mencerna dan kehidupan yang digambarkan serasa sempurna banget. Gua sambil baca sambil ngebayangin River Jusuf yang cool dan memikat.
Kebanyakan novel ini bercerita tentang kehidupan Raia dan River di New York, mereka sama-sama mencari short gateway untuk melupakan masalah mereka. Raia yang bingung salah apa di mata Alam dan River yang terus menerus menyalahkan kematian istrinya, Andara, meskipun itu adalah sebuah kecelakaan. Kak Ika ngebawa kita melihat New York dari sisi dua manusia yang rapuh, karena Raia kena writer’s block dan River yang masih terus dibayang-bayangin kejadian saat istrinya meninggal. Gaya bahasanya asik banget, as usual. Dan nggak bikin bosan karena berlarut-larut. Mereka berdua tegar tanpa pernah berkata banyak satu sama lain, bahkan ketika mereka mulai menyadari kalau mereka mencintai satu sama lain. Tidak ada yang berlebihan, dewasa dan sederhana.
Awalnya bakal ada drama lucu dengan adiknya River alias Aga, yang gua kira bakal seperti novel-novel biasanya. Aga akan suka dengan Raia, dan malah jadi persaingan kakak beradik. Tapi gua salah, Kak Ika mungkin memikirkan juga untuk buang aja tuh Aga wkwkwk. Yang menjadi peran cukup penting selain Aga adalah Erin, teman Raia yang tinggal di New York dan bersedia menampung Raia di apartemennya. Setiap hari, selama di New York setelah bertemu di pesta malam tahun baru dan setelah bertemu di Central Park, Raia dan River selalu menghabiskan hari-hari dengan mengunjungi tempat-tempat di New York yang memang nggak ada habisnya. River selalu datang jam sembilan pagi dan menunggu Raia di depan apartemen Erin. Kadang sambil baca gua ketawa-ketawa sendiri dengan tingkah kikuk bin lucu dari Raia dan River. Endingnya pun nggak neko-neko, mereka bertemu dengan Raia yang melontarkan pertanyaan "Mau apa kamu, Riv?" Secara simple River menjawab dengan tiga kata, "Aku mau kamu." Rating 3.9/5 di Goodreads lumayan mewakili perasaan gua yang baca ini. I love it!
Comments
Post a Comment