Setelah baca Antologi Rasa, gua
memutuskan untuk membeli buku ini sebagai acuan gua terhadap penulisnya Kak Ika
Natassa. Gua berpikir, novel ini mungkin nggak akan kalah keren dibanding
Antologi Rasa yang bagi gua lumayan bagus dengan bahasa yang enak banget
hehehe.
Judul novel : Critical Eleven
Cover novel : Gambar Pesawat
Pembatas novel: Kartu Boarding
Pass
Gua akan berpikir, novel ini
tentang pertemuan sepasang kekasih di bandara atau di pesawat. Dan ternyata
benar, tapi bagi gua pertemuan dan pendekatan mereka terlalu singkat. Cowok
yang bernama Aldebaran Risjad –Ale bertemu Tanya Baskoro –Tanya di pesawat,
dengan lucunya. Tanya memang sering banget naik pesawat so eventually she loves
airport. Ale, seorang cowok ganteng tinggi sempura adalah seorang yang hobinya
berada di kilang minyak berbulan-bulan.
Setelah pendekatan, pacaran dan
blablabla. Mereka menikah. Yey. Lalu, Tanya hamil. Yey. Setelah itu, Tanya
keguguran. Yey –eh salah. Tanya yang keguguran ini –yang sudah menamakan
anaknya bernama Aidan merasa hidupnya terlalu menyedihkan ditambah suaminya
yang jarang pulang sehingga terkesan Tanya berjuang sendirian. Ia selalu tidur
di kamar Aidan –yang memang sudah dipersiapkan kehadirannya oleh mereka berdua.
Tanya, begitu terpukul karena Aidan tidak lahir dengan hidup melainkan
meninggal. Sehingga ia mendiamkan Ale selama berbulan-bulan dan pretending to
be okay ketika ada di rumah orang tua mereka. Tanya sampai kepikiran untuk
bercerai karena sikap suaminya yang tidak sesuai dengan harapannya.
Bagi gua, Tanya yang terpukul itu
diceritakan oleh Kak Ika dengan ‘desperately’ memang gua rasa ketika seorang
wanita yang baru menikah dan hamil secara tiba-tiba keguguran akan merasa sedih
yang berkepanjangan atau bisa jadi trauma. Tapi Kak Ika ‘terlalu’ memfokuskan
pada keadaan itu di novelnya. Yang menurut gua sepertinya episodenya terlalu
panjang untuk Tanya yang terlalu berlebihan sedihnya –no offense. Mungkin
memang Kak Ika menitikberatkan di masalah keguguran, masalah kehilangan.
Setelah itu, ada momen dimana mereka melakukan hubungan suami istri karena
mungkin terbawa suasana. Tapi kemudian lebih menjadi-jadi karena Tanya
menganggap Ale hanya melampiaskan nafsu tanpa berpikir, padahal memang Ale
butuh hal itu karena sudah lama diem-dieman sama Tanya.
Tanya kembali sedih dengan sikap
suaminya dan sedihnya jadi bertubi-tubi karena menganggap suaminya tidak pernah
ingat dengan Aidan –sang anak yang diharapkan. Beberapa bulan setelahnya,
dokter bilang Tanya hamil lagi. Dan Tanya untuk pertama kalinya datang ke makam
Aidan yang meminta maaf karena tidak menjaganya dengan baik dalam kandungan dan
kembali bahagia bersama Ale dan sang calon anak. That’s it.
Meskipun tidak sesuai dengan
ekspektasi gua, Critical Eleven tetap betah membuat gua terus membaca sampai akhir
ditambah dengan bumbu-bumbu dalam novelnya meskipun tidak terlalu banyak. Lalu,
novel ini difilmkan akhirnya, meskipun gua belum nonton sampai sekarang,
katanya ada peran baru yang hadir, seorang pria yang gua sendiri lupa namanya
yang jelas diperankan oleh Hamish Daud. Mungkin, terlalu boring kalau cuman ada
dua tokoh yang kuat di dalam film. Tapi secara keseluruhan gua suka Critical
Eleven dari sisi bahwa kesedihan itu bukan sekedar patah hati atau hal yang datang
dari pasangan, tapi juga dari hal lain.

Comments
Post a Comment